TSOpTfOlBSdiBUOoGUGiBSOlBA==
00 month 0000

Headline:

BEM UNTAG 45 Banyuwangi Gelar Diskusi Publik, Soroti Korupsi, Tambang Tumpang Pitu hingga Anak Putus Sekolah

BEM UNTAG 45 Banyuwangi menggelar diskusi publik tentang peran pemuda dalam mengkritisi kebijakan publik. Forum membahas korupsi, tambang Tumpang Pitu

 

BEM UNTAG 45 Banyuwangi Gelar Diskusi Publik, Soroti Korupsi, Tambang Tumpang Pitu hingga Anak Putus Sekolah-nexzine.id
BEM UNTAG 45 Banyuwangi Gelar Diskusi Publik, Soroti Korupsi, Tambang Tumpang Pitu hingga Anak Putus Sekolah. (Foto: Ist/Nexzine)

NEXZINE.ID, Banyuwangi – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) 45 Banyuwangi menggelar Diskusi Publik bertajuk “Peran Pemuda dalam Mengkritisi Kebijakan Publik dari Tingkat Lokal dan Nasional” pada Senin (8/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UNTAG 45 Banyuwangi tersebut dimulai pukul 13.00 WIB dan menghadirkan berbagai unsur penting, mulai dari mahasiswa, pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga tokoh muda nasional.

Diskusi ini tidak hanya menjadi agenda akademik rutin, melainkan difungsikan sebagai sidang akademik terbuka yang mempertemukan pembuat kebijakan dengan kalangan pemuda untuk menguji, mendiskusikan, serta mengevaluasi berbagai kebijakan publik yang berdampak langsung kepada masyarakat.

Hadir sebagai pembicara utama, Tokoh Muda Nasional sekaligus Mahasiswa Berprestasi (Mapres) BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tio Ardianto. Dalam pemaparannya, Tio menekankan pentingnya pengawasan publik terhadap penyalahgunaan kekuasaan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Menurutnya, korupsi tidak hanya terbatas pada praktik penyalahgunaan uang negara, tetapi juga mencakup nepotisme yang dapat merusak kualitas tata kelola pemerintahan.

“Korupsi tidak selalu berbicara soal uang. Nepotisme juga merupakan bentuk korupsi yang nyata dan harus menjadi perhatian bersama,” ungkap Tio dalam forum diskusi.

Tambang Tumpang Pitu Jadi Sorotan

Suasana diskusi semakin dinamis ketika peserta mulai membahas sejumlah persoalan strategis yang berkembang di Banyuwangi.

Perwakilan LSM yang hadir secara khusus menyoroti aktivitas pertambangan di kawasan Tumpang Pitu. Mereka membahas dampak lingkungan serta regulasi yang mengatur aktivitas pertambangan tersebut.

Isu ini menjadi salah satu topik yang mendapatkan perhatian besar dari peserta karena dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.

Selain persoalan lingkungan, sektor pendidikan juga menjadi perhatian serius dalam forum tersebut.

Masih Ada Anak Tidak Bersekolah di Gombengsari

Dalam diskusi terungkap fakta bahwa masih terdapat anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan di wilayah Gombengsari, Banyuwangi.

Temuan tersebut memunculkan keprihatinan dari peserta forum dan dianggap sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian serta langkah konkret dari pemerintah daerah.

Peserta diskusi menilai akses pendidikan yang merata merupakan salah satu indikator penting keberhasilan pembangunan daerah dan harus menjadi prioritas dalam penyusunan kebijakan publik.

Polresta Banyuwangi Tegaskan Fokus Menjaga Kamtibmas

Perwakilan Polresta Banyuwangi yang hadir dalam kegiatan tersebut turut memberikan pandangan terkait peran institusi kepolisian dalam mendukung pembangunan daerah.

Mereka menegaskan bahwa tugas utama kepolisian dalam konteks tersebut adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sehingga berbagai proses pembangunan dan aktivitas sosial dapat berjalan dengan baik.

Kehadiran unsur kepolisian dalam forum ini dinilai penting sebagai bentuk komunikasi terbuka antara aparat keamanan dengan kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil.

BEM UNTAG 45 Banyuwangi Siap Jadi Fasilitator Intelektual

Di akhir sesi, forum berhasil merumuskan kesimpulan mengenai pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan kalangan mahasiswa dalam membangun ruang dialog yang sehat serta konstruktif.

Ketua Pelaksana Diskusi Publik, Al Ma’arif, menegaskan bahwa forum tersebut menjadi bukti terbukanya ruang kritik dan partisipasi publik di Banyuwangi.

“Acara ini menyimpulkan satu pesan kuat: Pemerintah Daerah dan aparat keamanan di Banyuwangi membuka diri secara inklusif terhadap kritik. Sementara itu, BEM UNTAG 45 Banyuwangi siap mengambil peran strategis sebagai fasilitator intelektual untuk memastikan suara pemuda tetap bergema secara terukur, legal, dan memberikan dampak nyata bagi formulasi kebijakan publik,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, BEM UNTAG 45 Banyuwangi kembali menegaskan komitmennya untuk mengawal kebijakan pemerintah melalui pendekatan akademik dan konstitusional yang berbasis data serta kajian ilmiah.

Forum tersebut juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan rekomendasi kebijakan secara bertanggung jawab demi mendorong pembangunan daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Daftar Isi
Formulir
Tautan berhasil disalin